Pendekatan Multikultural dan Interkultural dalam Komunikasi Antarbudaya

Published January 28, 2012 by unasignorina

1. Pengantar

 Dengan memasuki abad 21, secara tidak langsung tumbuh suatu kebutuhan mendesak di dalam masyarakat untuk mengembangkan pengertian terhadap sesamanya yang berasal dari latar belakang budaya dan etnik yang berbeda[1]. Hal ini berhubungan dengan masuknya kita kedalam era globalisasi, yaitu era dimana terjadi peningkatan kebutuhan antara satu negara dengan negara lainnya[2]. Meningkatnya kebutuhan antara satu negara terhadap negara lainnya inilah yang akhirnya membuat masyarakatnya mau tidak mau harus berhubungan atau lebih tepatnya melakukan komunikasi dengan masyarakat dari negara lainnya. Dan suatu komunikasi yang dilakukan antara seseorang dengan orang lain yang berasal dari latarbelakang budaya dan etnik yang berbeda inilah yang kita sebut sebagai komunikasi antarbudaya.

Melakukan komunikasi antarbudaya tidaklah semudah melakukan komunikasi dengan seseorang yang memiliki latar belakang budaya yang sama dengan kita. Hal ini dikarenakan dua orang yang berasal dari kebudayaan yang berbeda sering kali membawa serta nilai asumsi, ekspektasi, kebiasaan verbal dan nonverbal, dan tata cara berinteraksi yang sesuai dengan kebudayaan dari mana mereka berasal ketika berkomunikasi[3]. Banyaknya hambatan yang dapat mengganggu terjadinya suatu komunikasi antarbudaya inilah yang kemudian akan mengantarkan kita kepada pemahaman mengenai pentingnya mempelajari ilmu mengenai komunikasi antarbudaya.

Mempelajari komunikasi antarbudaya, adalah mempelajari perbedaan budaya yang benar-benar melahirkan perbedaan[4]. Perbedaan yang benar-benar melahirkan perbedaan inilah yang kelak akan sering mendatangkan hambatan di dalam suatu komunikasi antarbudaya. Untuk menjembatani perbedaan inilah, dikenal istilah pendekatan interkultural dan pendekatan multikultural yang kelak diharapkan dapat membantu terciptanya komunikasi antarbudaya yang baik.

2. Pendekatan Multikutural

Le terme multiculturel exprime une situation de fait, la réalité d’une société composée de plusieurs groupes culturels dont la cohésion est maintenue en accord avec un certain nombre de valeurs et de normes, alors que le terme interculturel affirme explicitement la réalité d’un dialogue, d’une réciprocité, d’une interdépendance et exprime plutôt un désir ou une méthode d’intervention (Galino & Escribano, 1990, p. 12)[5].

Pendekatan Multikultural sendiri berangkat dari suatu keadaan yang baru, yaitu keberadaan dua atau lebih kebudayaan yang berbeda yang hidup berdampingan[6]. Awalan kata «multi» pada kata multikultural merujuk pada pengertian «banyak» atau «berbagai macam», sehingga menurut asal katanya, Pendekatan Multikultural adalah sebuah pendekatan yang mengakui keberagaman budaya yang ada.

“Le pluriculturel ou le multiculturel relève davantage d’un constat ou d’une description, tandis que l’interculturel exprime plutôt une démarche ou une action”[7]. Pendekatan Multikultural memfokuskan bahasannya mengenai pengenalan dan hidup berdampingan dengan kebudayaan-kebudayaan yang berbeda dengan prinsip kesetaraan bagi setiap individunya[8]. Tujuan utama dari pendekatan ini adalah penerimaan dan penghormatan terhadap perbedaan budaya yang ada[9].

Meskipun merupakan suatu pendekatan yang mengakui keberagaman budaya yang ada, namun Pendekatan Multikultural tidak memungkinkan untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi diantara satu grup dengan grup lainnya yang berbeda budaya, ataupun permasalahan perdamaian dalam kehidupan sosial[10].

Pendekatan Multikultural belum bisa menyelesaikan masalah yang terjadi di dalam suatu komunikasi antarbudaya, karena di dalam komunikasi tersebut tidak cukup hanya mengakui keberagaman budaya. Tidak cukup hanya dengan melihat keberagaman suatu budaya, kemudian kita mencoba untuk mempelajarinya. Di dalam komunikasi antarbudaya, kemampuan berbahasa tidaklah cukup, karena di dalam suatu komunikasi, kemampuan berbahasa hanyalah salah satu faktor penunjang terjadinya komunikasi. Selain itu komunikasi juga bukanlah sesuatu yang bersifat linear, karena bentuknya selalu berubah-ubah, dan kita tidak dapat memprediksikan jalannya suatu komunikasi, terutama komunikasi dengan orang yang berasal dari kebudayaan yang berbeda[11].

Pendekatan Multikultural, yang menyatukan kelompok-kelompok dari berbagai macam budaya, meskipun bertujuan memperkenalkan perbedaan dari masing-masing budaya, namun tidak dapat menyelesaikan permasalah yang terjadi di dalam komunikasi antarbudaya. Karena perbedaan yang mendasar terdapat di dalam setiap individu, dan kita tidak bisa menyelesaikan permasalahan tersebut dengan menyamaratakan karakter tiap individu dengan kelompoknya. Sehingga, pendekatan ini dianggap belum bisa memecahkan masalah yang ada diantara pelaku komunikasi antarbudaya.

2. Pendekatan Interkultural

Pendekatan Antarbudaya atau Pendekatan Interkultural adalah sebuah solusi yang tepat dalam memecahkan permasalahan di dalam komunikasi antarbudaya, karena melalui pendekatan tersebut, manusia dapat menghindari penggeneralisasian dan stereotip terhadap orang asing.[12] Penggunaan Pendekatan Antarbudaya  sudah lama dianjurkan oleh Dewan Tinggi Eropa sejak tahun 1970 sebagai prioritas dalam sistem edukasi, dan sudah dipraktekkan di sekolah- sekolah Eropa mulai tahun 1990. Pada awal kemunculannya, pendekatan antarbudaya digunakan untuk memahami antarbudaya kaum imigran[13].

Dalam pendekatan antarbudaya, komunikasi melibatkan hubungan interaksi antara sekelompok orang, individu, dan identitas yang dibawa oleh mereka. Tidak seperti pendekatan multibudaya atau multikultural, yang hanya mengakui adanya keberagaman, Pendekatan Antarbudaya lebih mengedepankan pertemuan antarbudaya untuk dapat menempatkan individu sebagai pribadi yang unik, bukan membandingkannya dengan melihat suku atau rasnya.

Didalam pertemuan antarbudaya, sering terjadi kesalahpahaman yang disebabkan oleh stereotip terhadap orang asing. Oleh karena itu,  terdapat beberapa cara yang dikenalkan pada pendekatan interkultural dalam menghadapi pertemuan antarbudaya, yaitu memandang orang lain sebagai individu yang unik, dengan menghilangkan konsep ethnocentris, asal usul suku atau ras sebelum melakukan komunikasi. Kemudian, mengembangkan rasa empati terhadap orang asing, memahami budayanya, dan jangan menggeneralisasikannya. Dan, menghilangkan stereotip dan prasangka buruk terhadap orang asing, sebagai cara untuk memahaminya. Jadi, melalui cara-cara tersebut, pendekatan antarbudaya lebih memfokuskan pada pertemuan antarbudaya sebagai cara untuk memahami keberagaman dan perbedaan, bukan hanya mempelajari budayanya (Martine Abdallah- Pretceille).

3. Kesimpulan

Ada banyak hal, seperti stereotip, prasangka, dan lain sebagainya yang kerap menghambat terjadinya proses komunikasi antarbudaya , namun mau tidak mau, sebagai masyarakat modern yang telah memasuki era globalisasi, komunikasi antarbudaya menjadi sesuatu yang penting dan tidak dapat dihindari. Mengingat pentingnya jenis komunikasi yang satu ini, maka muncul berbagai macam pendekatan yang sekiranya dapat membantu terjadinya proses komunikasi antarbudaya yang baik.

Pendekatan yang pertama, adalah pendekatan multikultural. Pendekatan ini memfokuskan bahasannya mengenai pengenalan dan hidup berdampingan dengan kebudayaan-kebudayaan yang berbeda dengan prinsip kesetaraan bagi setiap individunya. Lalu pendekatan kedua, adalah pendekatan interkultural. Bila Pendekatan Multikultural menyetarakan setiap individunya, maka Pendekatan Interkultural lebih menempatkan individu sebagai pribadi yang unik. Di dalam pendekatan ini,  individu sebagai pribadi yang unik tidak digeneralisasikan dengan kelompokknya, melainkan dinilai berdasarkan kepribadian individu itu sendiri. Pada pendekatan ini, setiap individu dinilai unik, dan berbeda antara satu dengan lainnya.

Pendekatan Interkultural adalah pendekatan yang paling tepat untuk digunakan di dalam komunikasi antarbudaya. Karena pada dasarnya bukan hanya kebudayaan yang membedakan suatu kelompok, melainkan individu-individu di dalam kelompok tersebut yang juga memiliki ciri khasnya masing-masing yang tentu saja tidak boleh diabaikan.


[1] Ting-Toomey, Stella. Communicating Across Cultures. p. 3. 1999. United Stated of Amerika : The Guilford Press

[2] Wikipedia

[3] Op.Cit. p.194

[4] Ting-Toomey, Loc.Cit

[5] Dikutip dari dossier_interculturel.pdf

[6] Portera, Agostino. Intercultural and Multicultural Education. p. 19. 2011. New York : Routledge

[7] Dossier_interculturel.pdf. p. 7

[8] Francparler.org/dossiers/intercultural_theorie.htm#diversite

[9] Portera, Agostino.  Loc.Cit. p. 19

[10] Francparler, Op.Cit

[11] Francparler.org. Op.Cit

[13] Olivier Meunier, Les Dossiers de synthèse : l’Approche Interculturelle en éducation, septembre 2007. http://www.inrp.fr/vst/Dossiers/Interculturel/sommaire.htm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: